Teori dalam Investasi Saham

Bagi Anda yang tertarik untuk melakukan investasi saham, tentunya menyadari bahwa bermain saham tidak cukup hanya dengan mengandalkan tekad, intuisi dan pengalaman, terlebih apabila hanya mengandalkan tebalnya kantong saja. Dunia investasi, terutama saham membutuhkan banyak pembelajaran. Semakin banyak pengetahuan yang kita miliki, semakin pandailah kita menyusun strategi dan memonitor segala hal yang berkaitan dengan dunia saham itu sendiri.

 

Teori Bermain Saham

Ada beberapa teori dalam bermain saham, yang akan coba kita bahas, sebagai berikut:

1. One Day Trading

Sering juga disebut investasi saham dalam satu hari, yakni pada saat pagi membeli (bursa dibuka) dan sore hari menjual (bursa tutup). Atau bisa juga sebaliknya pagi menjual kemudian sore membeli. Beberapa investor mempercayai teori ini karena meyakini bahwa bursa saham haruslah selalu hidup dan tentunya setiap hari haruslah terjadi transaksi.

Faktanya adalah dalam jangka cukup panjang misal 365 hari dalam setahun, bisa terjadi dimana dalam satu hari tidak terjadi transaksi. Jika hal ini terjadi, mereka meyakini bahwa akan ada usaha dari pihak tertentu untuk melakukan transaksi, terutama pihak yang menggantungkan hidupnya dari investasi saham.

Transaksi seperti inilah yang diincar, karena transaksi seperti ini dianggap menguntungkan. Alasannya adalah transaksi tersebut sengaa dibiarkan rugi oleh pihak yang berkepentingan agar bursa selalu nampak hidup. Nilai transaksi ini biasanya sangat kecil, biasanya terhadap saham-saham emiten kelas kecil. Namanya saja teori, belum tentu benar, Anda bisa percaya boleh tidak. 🙂

 

2. Weekly Trading

Sama seperti one day trading, weekly trading tergolong investasi waktu singkat. Transaksi dilakkan hanya dalam satu minggu, semisal membeli di hari senin, kemudian menjual di hari kamis. Tenggang waktu dalam beberapa hari tersebut, biasanya digunakan untuk, memantau dan analisa kondisi bursa.

Para investor yang menerapkan strategi ini mempercayai hari-hari pada awal minggu terutama minggu pertama dan kedua di awal bulan sebagai hari dimana investor sedang memiliki dana besar. Secara otomatis dananya akan di investasikan (buy) meski belum tentu menjanjikan. Sebaliknya menjelang akhir pekan, diyakini bahwa banyak investor memerlukan uang untuk kebutuhannya, entah untuk berakhir pekan, keperluan keluarga atau kebutuhan lainnya. Artinya banyak yang rela melepas sahamnya meskipun kondisi merugi. Sekali lagi, ini teori belum tentu benar. 🙂

 

3. Beli Murah, Jual Mahal

Teori ini tentunya bukan hanya pada investasi saham, dalam bentuk investasi lainnya tentu saja teori ini dipergunakan. Teori yang paling basic. Artinya membeli saham pada saat harga murah, kemudian dijual kembali saat harga saham tinggi. Pasti untung kan.

Dalam investasi saham, selisih keuntungan tersebut disebut capital gain dan apabila rugi disebut capital loss.

Jika Anda ingin lebih teliti menilai murah mahalnya sebuah saham, terdapat beberapa teknik analisa seperti PER dan PBV, mungkin di lain artikel akan dijelaskan :). Tapi secara sederhana kira-kira begini, Anda tinggal beli sebuah saham pada harga berapapun dan jangan dijual sebelum melebihi harga pembelian. Another teory right! 🙂

 

4. Beli Mahal, Jual Lebih Mahal

Adakalanya dalam investasi saham, kita salah melangkah, artinya terjebak dalam manipulasi harga. Saham yang kita beli yang kita anggap murah, ternyata sangat mahal. Akibatnya sahan tersebut bukan menjanjikan keuntungan, tetapi kerugian.

Hal ini wajar, setiap investor hampir pernah mengalaminya. Apabila mengalami hal ini, jangan terburu-buru untuk menjual saham ini. Ada baiknya saham tersebut Anda tahan, sampai harganya naik melebihi harga beli, kemudian segera dilepas apabila sudah memiliki profit yang Anda anggap cukup.

Beberapa investor, kurang suka dengan teori ini, karena rata-rata mereka panik ketika menyadari bahwa saham yang mereka beli itu mahal dan segera menjualnnya dengan pertimbangan antisipasi terhadap kerugian yang lebih besar. Sebagai informasi, tidak salah juga memegang saham melebihi waktu satu tahun, jika tidak kebagian dividen pun, toh suatu saat harganya akan naik melebihi awal pembelian. Sebab, akan saja ada permainan dari investor, dan fluktuasi harga adalah denyut nadi bursa. Tanpa ada fluktuasi makan sebuah bursa akan terlihat mati. Tentu saja ini adalah lagi-lagi teori. 🙂

 

5. Beli Saat Harga Akan Naik, Jual Saat Harga Akan Turun

Seni bermain saham sebenarnya bukan hanya terletak apda hasil analisis rasio atau membeli saat harga murah dan menualnya saat harga sedang tinggi. Lebih untuk lagi apabila kita mempunyai kemampuan prediksi pergerakan harga saham, membeli pada saat akan naik dan menjualnya pada saat harga saham akan turun.

Sebagai contoh, ada masa promosi. emiten sedang gencar menyebarkan penawaran Initial Public Offering (IPO). atau pada saat masa pertumbuhan saham karena permintaan sedang tinggi, bisa juga masa kedewasaan saat harga saham menjadi terlalu mahal bagi investor dan akhirnya masa penurunan yang disertai dengan penjualan saham secara besar-besaran.

Pada awal sebuah saham diluncurkan (masa perkenalan) biasanya harga saham tersebut murah, dan banyak analis saham merekomendasikan bahwa saat terbaik ber investasi adalah pada masa awal ini (IPO). Tak heran apabila tersiar kabar tentang IPO suatu saham, banyak investor yang memburu saham-saham ini.

Masa pertumbuhan, sudah pasti harga saham akan melonjak tajam diatas harga pada masa IPO. Kenaikan ini bisa karena faktor permintaan dan penawaran atau bisa juga karena adanya corporate action serta rumors yang sengaja dihembuskan kalangan tertentu.

Sedankan masa kedewasaan, adalah masa dimana harga suatu saham sudah memiliki harga maksimal. Artinya pada titik ini suatu saham akan menghasilkan keuntungan atau capital gain sangat lah kecil. Ada kecerundungan harga saham tersebut akan turun dan naik lagi tetapi kembali ke harga semula. Semoga cukup jelas dipahami teori ini yah. 🙂

 

6. Arbitrate Selling

Sebenarnya agak melenceng kalau disebut teori bermain saham, arbitrate selling lebih kepada cara investor menggaet keuntungan dari perbedaan kurs melalui media bursa saham. Ketika kurs bergejolak, ternyata bukan cuma mereka yang berspekulasi di dunia valuta asing yang bakal menarik keuntungan, tetapi juga para investor saham.

Yang dimaksud disini adalah, transaksi jual beli saham perusahaan yang mencatatkan sahamnya di dua bursa atau lebih, yakni bursa lokal dan bursa luar negeri. Misalnya di Bursa Efek Indonesia dan New York Stock Exchange, atau London Stock Exchange. Tentunya arbitrate ini terjadi pada saham perusahaan-perusahaan yang relatif terpandang sahamnya di luar negeri. Oleh karena itu, transaksi ini biasanya digunakan oleh investor saham yang memiliki akses pada kedua bursa tersebut.

Selisih kurs akan terjadi pada harga saham yang tercatat pada kedua bursa tersebut. Misalnya hari ini saham ditutup pada level Rp10.000 per saham, sementara di bursa luar negeri tercatat ditutup pada Rp10.343 per saham. Tergantung kurs yang berlaku pada hari ini. Ini berarti harga saham perusahaan tersebut di luar negeri lebih mahal daripada di Indonesia. Investor yang memliki akses di dua bursa tersebut akan membeli pada Bursa Indonesia kemudian menjualnya pada bursa luar negeri. Tetapi yang menjadi risiko adalah saham-saham yang terlihat bagus (likuid) di bursa lokal belum tentu akan sama pada bursa luar negeri. Selain itu perbedaan waktu harus diperhitungkan dengan cermat, sehingga selisih kurs dapat terhitung dengan baik. Seru juga teorinya ya! 🙂

 

7. Buy on Rumors, Sell on News

Ini adalah teori klasik dari wallstreet, belilah pada saat terdengar rumors dan jual lah saham begitu ada berita mengenai saham tersebut pada media cetak ataupun elektronik.

Para investor yang meyakini teori ini, berpendapat bahwa harga saham akan cenderung fluktuatif pada saat ada rumors, dibanding dengan adanya berita di media. Oleh karena itu, pada masa fluktuatif seperti inilah, kesempatan bagi investor untuk menarik keuntungan sebanyak-banyaknya karena harganya pasti akan melonjak.

Satu lagi yang mereka percayai adalah nature daripada media adalah bad news is a good news, artinya media cenderung akan negatif some how, karena hal inilah yang akan menarik perhatian pembaca bagi media tersebut. Pada teori ini biasanya para investor mengkombinasikan dengan teori short momen (1 dan 2), artinya saham yang dibeli karena rumors, tidak dipegang terlalu lama meski harganya terus melonjak.

 

In The End

Setiap investor memiliki teorinya masing-masing. Ibarat rahasia bisnis, ada yang menyimpannya sampai mati, ada juga yang membagikannya untuk rekan yang membutuhkan. Beberapa teori diatas, mungkin belum mencakup semua teori dalam bermain saham, setidaknya dapat memberikan gambaran kontekstual bagi Anda yang tertarik untuk investasi saham. Untuk lebih menyempurnakan, buat kamu yang tertarik untuk investasi saham, kini dapat dilakukan dengan modal kecil, baca review kami disini. Happy Trading! 🙂

Rate this article!
Teori dalam Investasi Saham,3.50 / 5 ( 2votes )
Tags:

Leave a Reply